13 Agustus 2010

INTERNATIONAL CONFERENCE ON PAPUAN CULTURAL DIVERSITY 2010


An international event will take place in November 2010 in Jayapura, Papua, Indonesia, consisting of two parts: a conference and a festival.

Part (1): INTERNATIONAL CONFERENCE ON PAPUAN CULTURAL DIVERSITY 2010
Location : Gedung Sasana Krida dan Sasana Karya, Kantor Gubernur Papua, Jln. Soa Siu, Jayapura, Papua – Indonesia Date : 8 - 11 November 2010 Participants: Speakers and guests from Papua, Indonesia, and abroad, especially from countries within the Melanesian cultural context such as Papua New Guinea, Timor Leste, Solomon Islands, Fiji, Vanuatu and others.
Part (2): MELANESIAN CULTURAL FESTIVAL 2010 Location: Lapangan PTC Entrop, Jayapura, Papua - Indonesia Date: 11 - 14 November 2010 Participants: Cultural groups and guests from Papua / Eastern Indonesia, and from abroad, especially from countries within the Melanesian cultural context such as Papua New Guinea, Timor Leste, Solomon Islands, Fiji, Vanuatu and others.

LIPI: Papua Bisa Bernasib Sama dengan Timor Leste

VHRmedia, Jakarta – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi Papua memiliki potensi bernasib sama dengan Timor Leste. Meningkatnya kasus kekerasan dan pembangunan sosial ekonomi yang tidak merata dikhawatirkan memaksa pemerintah mengambil jalan referendum seperti dalam kasus Timor Timur (sekarang Timor Leste).
Pemerintah pusat, terutama Kementerian Koordinasi Politik Hukum dan HAM, terjebak dalam kepentingan integritas negara kesatuan, UU Otonomi Khusus, dan mengabaikan akar konflik di Papua. Pemerintah belum melakukan otokritik dan koreksi atas kegagalan kebijakan politik, hukum, dan keamanan di Papua.
”Kekhawatiran utama tim Papua LIPI jika pemerintah gagal mengatasi konflik akan dipaksa oleh keadaan seperti Timor Timur,” kata Muridan S Widjojo, ketua tim peneliti LIPI, dalam peluncuran buku Papua Road Map, Kamis (12/8).
Menurut Muridan, hilangnya kepercayaan antara institusi di Jakarta dan Papua membuat kepemimpinan politik dan praktik pemerintahan tidak efektif. ”Papua dan Jakarta hanya saling menyalahkan. Terhalang untuk menemukan jalan keluar.”
Muridan menilai konflik Papua harus diselesaikan melalui dialog Jakarta - Papua. Karena, pemerintah pusat dan warga Papua memiliki perbedaan pandangan soal akar masalah di Papua serta cara mengatasinya. ”Kalau hubungan politik buntu, jalan kekerasan makin terbuka. Tanda-tanda kekerasan politik terbukti terus meningkat,” katanya.

11 Agustus 2010

Pemda Mimika Send five students to China Lecture

Timika - Government District (regency), Mimika, Papua, this year sent five children graduated from secondary school (high school) for college to China. Students are selected based on the selection results will dikuliahkan at a cost of Mimika regency. The five students are Yansen H Boyau, Onisimus Yemaro, Norbertha Douw that students who graduate from state high schools are one of Mimika, along Apretina Tinal and Delson Mandela.

Department of Secondary Education (Dispenmen) will soon take care of their departure to China. "Five students are indeed prepared to leave for the Chinese government. The cost of their education we help you, the hope when he returned to serve in government Mimika, "said Head Dispenmen Mimika District, Drs. Isaiah Sombuk, met Radar Timika (JPNN group) in his office, yesterday (11 / 8).

Sombuk explained, his side has the departure of five students to discuss problems with the regents. Dispenmen will seek quick effort, so that five children will attend school at the University of China may soon go to Jakarta, for the debriefing of languages and related processing of their visa.

He explained that the five students that will follow 20 students from West Papua who had departed earlier and had participated in debriefing of Chinese in Jakarta. "Staying Mimika are not leaving. Soon I will report to the regents for the Mimika also go to Jakarta soon," he said.

Explained Sombuk, five students who will be dispatched to China had been advised to take economics and finance majors. "Because there is good to learn finance, in the hope that after they graduate can, go in the finance department because of the part, yet there are people of Papua," he explained.


The students are given one week to prepare for either file a diploma, letter of health and self-identification as well as others, and later required to lecture in China. "I am very proud and grateful to the Government of Mimika, which my child has chosen to continue their education abroad," said Lies Boyau, whose son was elected to lecture in China.

10 Agustus 2010

144 military personnel in Papua HIV / AIDS

JAYAPURA - MI: As many as 144 Army personnel who guarded the Papua region tested positive for HIV / AIDS. While 15 other personnel are still awaiting results of medical examinations.

"The report I received, at least 144 TNI soldiers who served in a number of areas infected with deadly diseases Papua HIV / AIDS. A total of four personnel have died otherwise," said Commander of Regional Military Command (Commander) XVII Cenderawasih, Major General Hotma Marbun told reporters in Jayapura , Tuesday (10 / 8).

Hotma said, soldiers are infected with deadly diseases caused by bad habits, ie, indiscriminate sex.

"For soldiers who tested positive for HIV / AIDS treatment services are routinely provided by Army medical team. As well as spiritual guidance and counseling to those suffering from HIV / AIDS is not spread the disease to others," he said.

Party Commands, continued Hotma, also continues to provide the socialization of the danger of a deadly disease that has so far not yet found a cure. "Socialization done so that the spread of this deadly disease does not continue to grow in an environment charged with the TNI in West Papua," he said.

Hotma added, similar cases are also found in some young people who want to register as a candidate for the Navy forces in Makodam Cenderawasih XVII.

"Most of the recruits who are infected with HIV / AIDS aged 18-20 years. There are many cases found during the medical examination conducted military recruitment," he added without specifying an exact number of soldiers who otherwise would-be living with HIV / AIDS.

08 Agustus 2010

Sokrates Tolak Panggilan Polda Sokrates: Gereja Tidak di Bawah Pemerintah atau Keamanan

AYAPURA—Panggilan Polda Papua bernomor B/792/VIII/2010 tertanggal 7 Agustus terhadap Duma Sokrates Sofyan Yoman, terkait pernyataannya yang dinilai memojokkan TNI/Polri soal kasus Puncak Jaya, tidak dipenuhi atau ditolak yang bersangkutan.
Duma Sokrates mengatakan, jangan pernah berpikir bahwa aparat keamanan yaitu TNI/Polri adalah pemilik kebenaran atau segala-galanya. Ini paradigma lama yang tidak relevan lagi dengan era saat ini. “Saya tidak akan pernah hadir untuk memenuhi undangan klarifikasi dari pihak Polda Papua bernomor B/792/VIII/2010 Dit Reskrim Polda Papua tertanggal 7 Agustus 2010,” tegas Ketua Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-Gereha Baptis Papua itu kepada Bintang Papua, kemarin .
Duma Sokrates mengatakan bahwa pernyataan yang disampaikan lewat media Jumat pekan lalu adalah benar, disertai dengan data-data yang akurat tentang keterlibatan aparat keamanan dalam kasus berkepanjagan yang terjadi di Kabupaten Puncak Jaya.
“Pernyataan yang disampaikan oleh saya bukan asal omong, kami mempunyai alasan, data dan pengalaman. Pemerintah dan aparat keamanan salah menilai dan salah mengerti terhadap kami, kami bukan bangsa bodoh, tuli, bisu dan buta,” ingat Yoman.

Gereja, kata Yoman, bukan sub ordinat (bawahan) pemerintah dan aparat keamanan. Gereja baptis Independen, otonom dan mandiri. Dalam prinsip dan roh ini, Gereja Baptis selalu menyuarakan suara kenabian bagi umat tak bersuara dan tertindas. “Kami heran, persitiwa kekerasan yang terjadi sejak tahun 2004 di kabupaten Puncak Jaya tidak pernah berakhir sampai tahun 2010, mengapa aparat keamanan yang mempunyai intelijen tidak berfungsi untuk mendeteksi kelompok-kelompok yang dianggap OPM yang membuat kacau,” tanya duma Yoman.
“Harapan kami, aparat keamanan harus berhenti bersandiwara di Tanah Papua ini, terutama pihak kepolisian tidak pantas memanggil saya, karena saya adalah tuan dan pemilik negeri serta ahli waris tanah ini,” ungkapnya.
Harus berhenti panggil-panggil Orang asli Papua, sarannya, tetapi mari kita hidup bersama secara bermartabat setara dan terhormat. “Jangan terus jadikan umat Tuhan seperti hewan buruan dengan stigma-stigma yang merendahkan martabat umat Tuhan,” tambahnya.
Dikatakan, “Sudah saatnya semua kekerasan dan sandiwara dihentikan, demi keadilan, perdamaian dan HAM,” tandasnya.(el).

Penembak Warga Manokwari Gunakan Senjata Laras Panjang

Manokwari: Pelaku penembakan di Kampung Teheyep, Distrik Tanah Rubuh, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, adalah tiga lelaki yang mengunakan senjata laras panjang. Keterangan itu diketahui dari seorang saksi yang melihat langsung peristiwa penembakan terhadap Yakobus Warfandu, minggu (8/8) pagi.

Saksi bernama Kartini, yang ternyata adalah keponakan korban. Menurut perempuan itu, penembakan terhadap Yakobus terjadi tadi pagi sekitar pukul 06.00 waktu setempat (bukan pada Sabtu (7/8) sore). Ketika mendengar letusan senjata, Kartini bergegas keluar rumah. Dia sempat melihat tiga orang kabur masuk hutan dengan menenteng senjata laras panjang.

Menurut Kartini, Yakobus tewas dengan luka tembak di leher. Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polres Manokwari sekitar pukul 08.00. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Manokwari Ajun Komisaris Fidelis Timoranto, kemudian melakukan penyisiran untuk mengejar pelaku.

Kepala Kepolisian Resor Manokwari Ajun Komisaris Besar Bambang Ricky, mengatakan polisi masih menyelidiki jenis senjata yang digunakan penyerang, dan identitas kelompok bersenjata ini. Berbeda dengan pengakuan Kartini, menurut Bambang korban Yakobus tewas dengan luka tembak di punggung. “Belum bisa diidentifikasi, pelaku melarikan diri,” kata Bambang.

Menurut Bambang situasi keamanan Kota Manokwari masih kondusif dan tidak terpengaruh penyerangan bersenjata yang menewaskan seorang warga ini. “Polisi masih menyelidiki, dan melakukan penyisiran dipimpin Kasat Serse, mereka masih di lokasi,” kata Bambang.

Sebelumnya, Jumat (6/8) sore, penyerangan dengan senjata laras panjang juga terjadi di Kampung Jigonikme, Distrik Jigonikme, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Akibat penyerangan ini Wekinus Wonda, 35 tahun, menderita luka serius di bagian kaki.

Kepala Kepolisian Resor Puncak Jaya, Ajun Komisaris Besar Alex Korwa mengatakan menurut keterangan Wekinus, penyerang menembak dengan senjata lars panjang jenis M16. Hingga kini, polisi belum dapat memastikan identitas kelompok bersenjata yang semakin sering melakukan penyerangan terhadap warga di beberapa wilayah Papua.

Freedom Papua

The film clip for George Telek's West Papua (merdeka mix) featuring Ngaiire Produced by Airi Ingram
The song is released of Teleks new albums Akave (in Australia and International) (Wantok/Planet) and Pairap Gen (in PNG and Pacific).(CHM).
mixed by Tim Cole